resolusi di Tahun Baru

Alangkah baiknya dalam memulai tahun baru, kita melakukan resolusi atau penataan kembali terhadap kehidupan secara menyeluruh. Kita semua berharap, di tahun baru ini ada lebih banyak kebaikan dan sukses yang bisa kita raih.

Kita ingin meninggalkan hal-hal buruk, membuang sifat-sifat negatif yang terbukti menghambat kehidupan selama ini. Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mensyukuri apa pun yang telah kita alami selama satu tahun yang lewat.

Bagaimanapun pengalaman adalah guru yang terbaik. Tanpa kesalahan, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain, sulit bagi kita untuk belajar memperbaiki diri, menyadari ada hal-hal yang belum selesai atau masih menjadi masalah.

Selain itu, kita dapat lebih mengenali diri, apa kekurangan yang perlu diperbaiki dan apa kekuatan diri kita. Misalnya, ternyata bisnis kurang maju, gagal diet, belum dapat membina hubungan efektif dengan keluarga atau bawahan, masih sulit mengendalikan emosi atau masih boros, mau menang sendiri, kurang peduli pada tetangga atau pada orangtua.

Hambatan meraih sukses

Menyimak ucapan Skip Ross, motivator yang pernah memberikan ceramah di Jakarta, upaya meraih sukses terhambat oleh aspek-aspek yang psikologis sifatnya. Beberapa di antaranya adalah:

1. Tidak fokus.

Bila kita belum tahu mau melakukan apa dan ke mana tujuan kita, maka kita akan mudah bimbang. Jika kita tidak konsisten menjalankan sesuatu, kurang fokus pada apa yang kita tuju, maka kita akan mudah kehilangan arah. Kita juga sering terbiasa mengurusi hal-hal kecil sehingga mengurangi perhatian pada hal yang betul-betul penting. Jika kita tak punya prioritas dalam melakukan sesuatu, kita akan menjadi bingung.

2. Kekurangan harga diri.

Ini berhubungan dengan citra diri yang kurang baik, merasa diri kurang berharga untuk meraih sukses, merasa diri kurang punya bakat, kurang mampu dan tidak layak mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

3. Kurang keyakinan.

Akan sangat menghambat kinerja kita bila kita kurang yakin pada kemampuan dan kekuatan diri untuk meraih sukses. Juga bila kita kurang yakin pada hal-hal yang tersedia di lingkungan, apakah pada sistem dan aturan yang ada, ataupun tidak percaya pada orang-orang yang berada di sekitar kita. Kita jadi cenderung berpikiran yang negatif saja tentang berbagai hal.

4. Kurang pengetahuan dan keterampilan.

Acap kali kita merasa sudah paham dan tak perlu belajar lagi dalam menghadapi kegagalan. Padahal sikap kurang terbuka pada hal baru dan sikap mudah puas dengan apa yang telah kita miliki bukanlah hal yang mendukung perbaikan dan pemberdayaan diri. Khususnya keterampilan komunikasi interpersonal sering kurang menjadi perhatian untuk dilatihkan.

5. Energi yang rendah.

Ini berhubungan dengan kurangnya semangat atau rasa cepat lelah dalam menghadapi sesuatu. Bisa karena secara fisik kurang sehat, bisa pula karena memang tak ada cukup semangat dan sikap cepat menyerah dalam mengatasi kesulitan.

6. Kekurangan dukungan.

Kita tak bisa selalu menangani berbagai hal sendirian. Tidak salah bila suatu waktu meminta bantuan dan dukungan pada orang yang kita anggap bisa menolong menghadapi masa-masa sulit. Banyak contoh mereka yang dalam kesusahan dan ketidakberdayaan, tidak memperoleh dukungan dari lingkungan terdekat, malah melakukan tindakan yang lebih negatif.

Langkah-langkah

Jika kita coba meramu bersama agar kita dapat menjadi pribadi atau kelompok yang lebih baik, produktif, dan sukses, setujukah Anda dengan langkah berikut ini?

1. Memiliki cita-cita atau mimpi serta tujuan hidup.

Cita-cita bisa setinggi langit, tapi tujuan hidup perlu lebih realistis. Tujuan hidup tak langsung bisa ditemukan begitu saja. Diperlukan perenungan diri dalam waktu yang tidak singkat. Tapi tujuan hidup ini penting sebagai panduan yang mengarahkan langkah kita selanjutnya.

2. Bekerja keras.

Cita-cita maupun tujuan hidup harus ditindak lanjuti dengan kerja nyata, kalau tidak mimpi tersebut akan pudar dan menghilang.

3. Menghadapi berbagai tantangan.

Memperlakukan berbagai kesulitan sebagai sesuatu yang menantang, bukan mengancam. Ini semua berkaitan dengan persepsi. Kita perlu mengubah pandangan menjadi lebih optimistis. Kita harus mempunyai kebanggaan dan kebermaknaan terhadap hal-hal yang kita miliki dan akan kita capai.

4. Bertahan.

Tidak cepat menyerah atau berhenti mencoba. Kita berupaya meyakini bahwa semua kesulitan, seberapa pahit dan sulitnya, pasti ada penyelesaiannya.

5. Meningkatkan energi.

Untuk mencapai stamina dan energi maksimal, kita perlu merawat diri agar sehat secara fisik dan mental. Ini dapat dilakukan dengan makan cukup dan benar serta berolahraga secara rutin.

6. Mengembangkan prinsip hidup yang bermoral dan etis.

Termasuk di sini prinsip menghargai dan toleran pada orang lain yang berbeda dengan diri kita, peduli pada lingkungan dan kesulitan orang lain, meyakini hukum ”makin banyak memberi kita akan makin banyak menerima”, serta tidak berpamrih dalam hubungan dengan siapa pun.

7. Menikmati dan menyeimbangkan berbagai aspek kehidupan.

Kita perlu terus latihan memanfaatkan waktu yang terbatas ini sebaik mungkin. Sukses hidup berarti seimbang dalam menjalani berbagai aspek kehidupan, berarti bisa memadukan aktivitas pribadi, pekerjaan, kesehatan, keluarga, sosial, dan spiritual.

AGUSTINE DWIPUTRI, Psikolog

sumber : Kompas.com
Categories: Fresh Article | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d bloggers like this: